Pekerja kemanusiaan dan tenaga medis mendedikasikan hidup mereka untuk membantu orang lain dalam situasi paling berbahaya. Namun di berbagai medan konflik saat ini, mereka yang memberikan bantuan yang menyelamatkan nyawa justru menghadapi risiko yang semakin besar.

Belum lama ini, Komite Internasional Palang Merah (ICRC) menyampaikan duka mendalam atas kepergian relawan Palang Merah Lebanon, Youssef Assaf, pada hari Rabu, 11 Maret 2026 yang wafat akibat luka yang dideritanya saat menjalankan misi penyelamatan di Lebanon selatan.

“Kehilangan seorang anggota Palang Merah Lebanon yang sedang berupaya menyelamatkan nyawa orang lain merupakan pukulan yang sangat berat bagi kita semua,” kata Agnès Dhur, Kepala Delegasi ICRC di Lebanon. Dia juga menyampaikan keprihatinan mendalam atas cidera yang dialami oleh rekan-rekan yang lain serta tenaga medis yang terdampak kekerasan. Agnès juga menyampaikan simpati kepada keluarga serta sesama relawan yang tetap melayani masyarakat di tengah kondisi yang sangat berbahaya.

Setiap hari, pekerja kemanusiaan dan tenaga medis mempertaruhkan nyawa untuk membantu mereka yang terluka dan memberikan dukungan kepada masyarakat yang terdampak konflik. Mereka ini harus bisa menjalankan tugasnya dengan aman dan tanpa hambatan.

ICRC kembali menegaskan bahwa semua pihak yang terlibat dalam konflik memiliki kewajiban berdasarkan hukum humaniter internasional untuk menghormati dan melindungi tenaga medis, ambulans, rumah sakit, serta fasilitas kesehatan setiap saat. Ini termasuk mengambil langkah-langkah pencegahan untuk menghindari atau meminimalisir korban sipil, serta memastikan tim penyelamat dapat menjangkau mereka yang membutuhkan bantuan dengan aman.

Namun, bahaya yang dihadapi pekerja kemanusiaan tidak hanya terjadi di satu negara.

Pernyataan Bersama

Dalam pernyataan bersama, Presiden Federasi Internasional Perhimpunan Palang Merah dan Bulan Sabit Merah, Kate Forbes, dan Presiden ICRC, Mirjana Spoljaric, menyampaikan kemurkaan mereka karena pekerja kemanusiaan terus menjadi korban dalam berbagai konflik.

Semenjak ekskalasi permusuhan di kawasan Timur Tengah, pekerja kemanusiaan dan tenaga medis semakin sering terjebak dalam situasi baku tembak, yang mengancam dukungan vital yang sangat dibutuhkan warga sipil untuk bertahan hidup.

Di Iran, staf dan relawan Bulan Sabit Merah Iran juga menjadi korban saat membantu masyarakat di tengah situasi permusuhan.

Meski menghadapi bahaya besar, staf dan relawan Palang Merah dan Bulan Sabit Merah di berbagai negara, serta tim dari Magen David Adom di Israel, tetap menjalankan tugas mereka dengan risiko pribadi yang tinggi demi membantu masyarakat yang membutuhkan.

Hukum humaniter internasional secara jelas melindungi pekerja kemanusiaan dan tenaga medis. Namun di berbagai konflik di dunia, insiden pekerja yang terbunuh, terluka, diculik, atau ditahan saat menjalankan tugas masih terus terjadi.

Pada Rabu, 11 Maret 2026, seorang staf UNICEF dilaporkan tewas akibat serangan drone di Republik Demokratik Kongo. Dalam triwulan pertama tahun ini, staf dan relawan Palang Merah dan Bulan Sabit Merah harus gugu saat bertugas tidak hanya di Lebanon tetapi di Sudan, Gaza, dan Iran.

Organisasi kemanusiaan kembali menyerukan kepada negara-negara dan semua pihak yang terlibat dalam konflik untuk segera mengambil langkah nyata guna melindungi mereka yang mempertaruhkan segalanya demi menyelamatkan nyawa.

Ketika pekerja kemanusiaan dilindungi, keselamatan dan martabat masyarakat yang terdampak konflik juga ikut terlindungi. Pada akhirnya, melindungi mereka yang memberikan bantuan berarti memelihara kemanusiaan kita bersama.