Ambulans yang diserang atau dihambat, pekerja kesehatan diancam atau menjadi target kekerasan, sementara korban luka dan yang sakit terbaring sekarat, akses mendapatkan perawatan kesehatan yang layak sudah terenggut. Sesering apakah hal tersebut terjadi selama 150 tahun terakhir ini? Foto-foto ini menggambarkan kekerasan terhadap fasilitas dan pekerja kesehatan, dan mengilustrasikan betapa sulitnya memberikan perawatan kesehatan pada masa perang. Bahkan saat ini, orang-orang kadang menolak perawatan kesehatan yang diberikan hanya karena mereka takut diserang ketika dalam perjalanan ke Rumah Sakit.
Foto-foto ini dipamerkan pada pameran “Health Care in Danger: An Issue For Our Times”.
![150-years-hcid-01-hist-0081](https://blogs.icrc.org/indonesia/wp-content/uploads/sites/97/2013/08/150-years-hcid-01-hist-0081-e1376465937902.jpg)
Austria, 1914-1918. Rumah Sakit lapangan Militer setelah serangan. © Perpustakaan Nasional Austria, Wina / hist-00.814
![150-years-hcid-02-hist-0133](https://blogs.icrc.org/indonesia/wp-content/uploads/sites/97/2013/08/150-years-hcid-02-hist-0133-e1376465954704.jpg)
Perang Dunia II, United Kingdom. Sebuah klinik pediatrik setelah serangan bom. © Palang Merah Inggris / versi-01.336
![150-years-hcid-03-ly-e-00318](https://blogs.icrc.org/indonesia/wp-content/uploads/sites/97/2013/08/150-years-hcid-03-ly-e-00318-e1376465967438.jpg)
Libya, 2011. Ruang operasi utama sebuah rumah sakit di reruntuhan setelah serangkaian serangan bom. © ICRC / André Liohn / l-e-00.318
![150-years-hcid-04-lb-d-0007](https://blogs.icrc.org/indonesia/wp-content/uploads/sites/97/2013/08/150-years-hcid-04-lb-d-0007-e1376465979867.jpg)
Lebanon, 1983. Ambulans yang rusak dalam pertempuran selama baku tembak antara pasukan Israel dan Palestina. © ICRC / B. Hubschmid / lb-d-00078-18
![150-years-hcid-07-il-e-0241](https://blogs.icrc.org/indonesia/wp-content/uploads/sites/97/2013/08/150-years-hcid-07-il-e-0241-e1376466027793.jpg)
Israel dan wilayah pendudukan 2011. Tim paramedis Bulan Sabit Merah Palestina merawat korban yang terluka. © ICRC / A. Gutman / il-e-02.413
![150-years-08-th-n-00136-21](https://blogs.icrc.org/indonesia/wp-content/uploads/sites/97/2013/08/150-years-08-th-n-00136-21-e1376466036114.jpg)
Thailand, 1980. Mengevakuasi korban yang terluka setelah desa mereka yang berada di perbatasan Viet Nam diserang. © ICRC / Y. Muller / th-n-00136-21
![150-years-hcid-09-sv-e-00164](https://blogs.icrc.org/indonesia/wp-content/uploads/sites/97/2013/08/150-years-hcid-09-sv-e-00164-e1376466050735.jpg)
El Salvador, 1987. Evakuasi selama perang sipil di Salvador. © Palang Merah Amerika / D. Cima / sv-e-00164
![150-years-hcid-10-af-e-0170](https://blogs.icrc.org/indonesia/wp-content/uploads/sites/97/2013/08/150-years-hcid-10-af-e-0170-e1376466116778.jpg)
Afghanistan, 2010. Taksi yang digunakan untuk membawa korban terluka ke rumah sakit ketika tidak ada layanan ambulans. © ICRC / K. Holt / af-e-01707
![150-years-hcid-11-00020-14h](https://blogs.icrc.org/indonesia/wp-content/uploads/sites/97/2013/08/150-years-hcid-11-00020-14h-e1376466106164.jpg)
Rwanda, 1994. Sebuah rumah sakit lapangan ICRC didirikan untuk mengobati para korban genosida. © L’Illustre / C. Gluntz / rw-d-00020-14
![150-years-hcid-12-pk-e-0074](https://blogs.icrc.org/indonesia/wp-content/uploads/sites/97/2013/08/150-years-hcid-12-pk-e-0074-e1376466095616.jpg)
Pakistan, 2009. Rumah sakit bedah lapangan untuk orang-orang yang terluka Selama pertempuran di wilayah tersebut. © ICRC / J. Ahmad / pk-e-00.743
![150-years-hcid-13-z7a1471](https://blogs.icrc.org/indonesia/wp-content/uploads/sites/97/2013/08/150-years-hcid-13-z7a1471-e1376466085991.jpg)
Syria, 2012. Ahli bedah bekerja dua kali lipat di kediaman pribadi yang dijadikan sebagai rumah sakit darurat. © ICRC / R. Garcia Vilanova
![150-years-hcid-14-rh0177icr](https://blogs.icrc.org/indonesia/wp-content/uploads/sites/97/2013/08/150-years-hcid-14-rh0177icr-e1376466074914.jpg)
Haiti, 2009. Relawan Palang Merah yang berusia dua puluh lima tahun ini tertembak di mulut saat membantu para korban kekerasan yang terjadi di Kota Shanty. Namun ia tetap bekerja membantu evakuasi para korban. © ICRC / VII / R. Haviv
![150-years-hcid-15-af-e-0164](https://blogs.icrc.org/indonesia/wp-content/uploads/sites/97/2013/08/150-years-hcid-15-af-e-0164-e1376466062240.jpg)
Afghanistan, 2010. Butuh waktu empat hari bagi ibu ini untuk mencapai salah satu dari beberapa rumah sakit di mana anaknya dirawat akibat menderita diare yang parah. Ketika sampai di rumah sakit tersebut kondisi anaknya sangat buruk. © ICRC / K. Holt / af-e-01647