Mesjid Baiturrahman Aceh. Dok: PMI

Mesjid Baiturrahman Aceh.
Dok: PMI

Peristiwa 10 tahun lalu tak akan dilupakan masyarakat Aceh maupun dunia. Minggu pagi, 26 Desember 2004, Tsunami menghantam 14 negara yang berbatasan langsung dengan samudra Hindia, menyebabkan lebih dari 200.000 korban jiwa, dengan Aceh sebagai daerah dengan korban jiwa terbesar di dunia.

Komite Internasional Palang Merah (ICRC) merupakan salah satu organisasi kemanusiaan internasional yang mempunyai kantor di Banda Aceh pada saat itu, sehingga ICRC bersama Palang Merah Indonesia (PMI) dapat langsung memberikan respon kemanusiaan sesaat setelah musibah tersebut terjadi.

Dua hari setelah kejadian tersebut, para relawan dari Gerakan Palang Merah dan Bulan Sabit Merah Internasional mulai mendistribusikan 1.000 terpal untuk membuat tempat penampungan sementara, dan perlengkapan rumah tangga untuk 9.000 pengungsi, yang terdiri dari kebutuhan dasar, pakaian, perlengkapan kebersihan dan alat-alat masak. ICRC juga menyediakan peralatan-peralatan bagi para relawan PMI untuk mengevakuasi korban.

Berikut ini adalah video wawancara bersama Markus Dolder, wakil kepala ICRC delegasi Indonesia pada tahun 2002-2005, yang mana ia menggambarkan situasi Aceh setelah Tsunami menghantam daerah tersebut:

Ringkasan kegiatan dan bantuan distribusi berdasarkan kebutuhan:

Bantuan makanan dan non-makanan serta tempat tinggal

Selama tiga minggu setelah terjadinya Tsunami, staf ICRC melakukan asesmen ke lebih dari 90 lokasi penampungan di Banda Aceh, Kabupaten Aceh Besar, Kabupaten Pidie, Bireuen dan Lhokseumawe. Mereka dengan cepat melakukan asesmen, yang langsung dilanjutkan dengan distribusi makanan dan bantuan kemanusiaan non-makanan yang terdiri dari perlengkapan kebersihan, pakaian dan bahan dasar rumah tangga serta bahan-bahan penampungan lainnya.

  • Atas kerjasama ICRC dan PMI, 122.310 pengungsi (24’462 Rumah Tangga) telah menerima non-pangan dalam bentuk kebutuhan dasar kebersihan, pakaian, pakaian dalam, peralatan memasak, tenda, terpal, tikar, selimut dan perlengkapan untuk bayi (perlengkapan keluarga).
  • Antara tanggal 6 dan 13 Januari 2004, ICRC bekerjasama dengan PMI mendistribusikan makanan untuk kebutuhan selama satu minggu (beras, mie, minyak goreng, ikan kaleng, garam, gula, susu bubuk, dan biskuit) kepada total 50.266 pengungsi (11’086 Rumah Tangga).
  • 500 perlengkapan kebersihan dirakit dan didistribusikan di 90 lokasi penampungan.
  • ICRC memastikan bahwa bantuan yang telah diberikan telah sesuai dengan kebutuhan para pengungsi, seperti pemulihan diri, kebersihan dan peralatan untuk mata pencaharian.
PMI bersama ibu-ibu warga rw 7 dampak mendirikan Dapur umum.  Dok: PMI

PMI bersama ibu-ibu warga rw 7 dampak mendirikan Dapur umum.
Dok: PMI

Evakuasi jenazah

  • ICRC menyediakan peralatan-peralatan bagi para relawan PMI untuk evakuasi para korban, seperti: kantong mayat, terpal plastik, sarung tangan dan masker. PMI, bersama dengan TNI, Polri dan SAR mengumpulkan lebih dari 20.000 jenazah di kota Banda Aceh sendiri.
  • Secara total, ICRC mengirimkan 10.500 kantong mayat, 500 gulungan besar plastik, 2.500 sepatu karet, 500 helm dan alat penerangan, 3.000 pasang sarung tangan pelindung, 3.000 masker, 400 sekop, 500 pakaian pelindung.
Tim SAR ketika melakukan evakuasi para korban yang meninggal. Dok: PMI

Tim SAR ketika melakukan evakuasi para korban yang meninggal.
Dok: PMI

Medis

  • Para pakar medis memantau rumah sakit yang tersisa di Banda Aceh serta fasilitas kesehatan di tempat-tempat pengungsian dan memberikan pasokan medis bila diperlukan.
  • Sarung tangan bedah untuk melakukan 100 operasi besar atau 200 bantuan minor, bahan-bahan benang bedah untuk 100 sampai dengan 120 operasi, 1600 bahan untuk membebat, 80 bahan-bahan untuk pengobatan patah tulang, 18 paket obat-obatan dasar untuk apotek, 10 set peralatan dasar untuk apotek. Selain itu, suntikan analgesik, antibiotik, desinfektan dan berbagai obat-obatan dan peralatan medis telah diberikan kepada fasilitas-fasiltas kesehatan sesuai permintaan.
  • 100 tempat tidur untuk rumah sakit lapangan, yang disediakan oleh Palang Merah Norwegia, di Banda Aceh.
Tim dokter ICRC di Rumah Sakit lapangan. ©ICRC

Tim dokter ICRC di Rumah Sakit lapangan.
©ICRC

Air dan sanitasi

  • Para pakar air dan sanitasi ICRC melakukan asesmen atas akses terhadap air bersih yang diterima oleh masyarakat, kondisi sanitasi pengungsi, serta menyediakan air bersih (instalasi tangki air dan truk air) dan fasilitas sanitasi (kapasitas untuk pembangunan 1000 jamban). Para pakar juga melakukan asesmen terhadap tempat-tempat pengolahan air kota (yang pada saat itu hanya beroperasi 60% dari kapasitas normal) dan telah memberikan bahan kimia yang diperlukan untuk satu bulan operasi. ICRC menyediakan air bersih yang memungkinkan untuk memenuhi kebutuhan bagi 20.000 orang.
Gerakan Palang Merah dan Bulan Sabit Merah Internasional membangun pengolahan air bersih. Dok: PMI

Gerakan Palang Merah dan Bulan Sabit Merah Internasional membangun pengolahan air bersih.
Dok: PMI

Pemulihan Hubungan Keluarga

ICRC bekerjasama dengan PMI, melaksanakan kegiatan-kegiatan berikut ini agar orang-orang yang terkena dampak gempa dan tsunami yang melanda Aceh dapat memulihkan hubugan dengan keluarga mereka. Bermacam sarana pun digunakan seperti pertukaran Berita Palang Merah, penggunaan telepon satelit, penggunaan formulir “Saya Selamat dan “Saya Mencari”, penggunaan website ICRC www.familylinks.org, membantu anak-anak tanpa pendamping dan mempublikasi nama di media. Tercatat hampir 26.500 nama dipublikasikan di media, dan lebih dari 2.600 panggilan telepon dilakukan. Secara keseluruhan, ICRC telah menangani lebih dari 40.000 kasus.

Maimun, salah satu anak tanpa pendamping yang berhasil dipertemukan dengan anggota keluarganya oleh ICRC. ©ICRC

Maimun, salah satu anak tanpa pendamping yang berhasil dipertemukan dengan anggota keluarganya oleh ICRC.
©ICRC